Dampak Buruk Limbah Sampah B3 Bagi Ekosistem Sungai

Disusun Oleh

Dibimbing Oleh

Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah

Berkembangnya zaman membuat sektor industri juga meningkat pesat dalam menghasilkan produk baru sesuai kebutuhan manusia. Banyaknya produk yang dihasilkan juga berbanding lurus dengan limbah yang dihasilkan oleh industri. Limbah yang dihasilkan biasanya dikategorikan menjadi limbah B3. Biasanya limbah B3 dihasilkan dari kegiatan\ usaha baik dari sektor industri, pariwisata, pelayanan kesehatan maupun dari domestik rumah tangga.

Limbah B3 merupakan sisa usaha atau kegiatan yang mengandung B3. B3 dapat didefinisikan sebagai zat, energi, atau komponen yang lainnya. Limbah B3 dapat mencemarkan atau merusak lingkungan, contohnya pencemaran pada sungai. Limbah B3 yang masuk ke sungai dapat membuat pencemaran pada air yang mengandung banyak virus penyakit. Ikan atau organisme air dapat mati atau bahkan punah. Hal ini nantinya akan menyebabkan masalah\kerusakan pada ekosistem.

Dampak dari kerusakan ekosistem tersebut adalah rusaknya lingkungan yang mengakibatkan biota (keseluruan kehidupan yang ada pada satu wilayah geografi tertentu) yang hidup pada sungai tercemar dan bahkan mengakibatkan kematian. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) hampir 80 persen pencemaran kali atau sungai disebabkan sampah rumah tangga di tambah rendahnya kesadaran masyarakat menjaga lingkungan. 

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang dapat diidentifikasi dari pengamatan ini adalah :

  1. Apa jenis, sifat, dan klasifikasi limbah B3?
  2. Apa saja karakteristik sungai yang terkena limbah B3?
  3. Apa saja dampak limbah B3 bagi ekosistem sungai?  

C. Dugaan Sementara

Berdasarkan rumusan masalah di atas, dugaan sementara penulis dari penelitian ini adalah :

  1. Karakteristik sungai yang terkena limbah B3 adalah adanya bahan pelarut dan endapan, berbau, derajat keasaman tidak netral, mikroorganismeyang berlebih, memiliki rasa, radioaktivitas air meningkat, suhu air berubah, serta berwarna.
  2. Dampak limbah B3 jika tidak dikelola dengan baik, maka sungai akan menjadi kotor dan beracun serta lingkungan di sekitar akan tidak ada tanaman atau hewan yang tinggal di dekat sungai tersebut.

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah untuk :

  1. Mendeskripsikan Jenis, sifat, dan klasifikasi limbah B3?
  2. Mendeskripsikan karakteristik sungai yang terkena limbah B3?
  3. Mendeskripsikan dampak limbah B3 bagi ekosistem sungai?  

E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini, antara lain :

  1. Dapat mengetahui Jenis, sifat, dan klasifikasi limbah B3
  2. Dapat mengetahui karakteristik sungai yang terkena limbah B3?
  3. Dapat mengetahui  dampak limbah B3 bagi ekosistem sungai?  

Kajian Pustaka

A. Pengertian Sungai

 Sungai merupakan badan air mengalir (perairan lotic) yang membentuk aliran di daerah daratan dari hulu menuju ke arah hilir dan akhirnya bermuara ke laut. Air sungai sangat berfungsi untuk memenuhi kebutuhan kehidupan organisme daratan seperti;  tumbuhan, hewan, dan manusia di sekitarnya serta seluruh biota air di dalamnya. Sungai mempunyai fungsi utama menampung curah hujan dan mengalirkannya sampa laut. Ekosistem sungai merupakan habitat bagi organisme akuatik yang keberadaannya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.  Organisme akuatik tersebut diantaranya tumbuhan air, plankton, perifiton, bentos, ikan, serangga air, dan lain-lain. Sungai juga merupakan sumber air bagi masyarakat yag dimanfaatkan untuk berbagai keperluan dan kegiatan, seperti kebutuhan rumah tangga, pertanian, industri, sumber mineral, dan pemanfaatan lainnya.

B. Pengertian Ekosistem

Ekosistem adalah suatu sistem yang terdiri dari organisme hidup (biotik) dan lingkungan fisik (abiotik) yang saling berinteraksi di dalam suatu wilayah atau area tertentu. Ekosistem melibatkan hubungan kompleks antara organisme hidup satu sama lain dan dengan lingkungan mereka, termasuk faktor-faktor seperti iklim, tanah, air, sinar matahari, dan interaksi ekologis.

Interaksi antara organisme hidup dan lingkungan fisik dalam ekosistem sangat kompleks. Misalnya, tumbuhan membutuhkan sinar matahari, air, dan nutrisi dari tanah untuk tumbuh. Hewan herbivora memakan tumbuhan untuk mendapatkan energi, sementara hewan karnivora memangsa herbivora dan mungkin juga hewan lain dalam rantai makanan. Ketika organisme mati, dekomposer mengurai sisa-sisa organisme tersebut, mengembalikan nutrisi ke lingkungan.

Ekosistem juga memiliki kapasitas untuk mengatur diri sendiri melalui keseimbangan alaminya. Ini berarti bahwa populasi organisme tertentu dapat bertahan hidup dalam jumlah yang seimbang dengan sumber daya yang tersedia. Jika suatu komponen ekosistem mengalami perubahan, misalnya karena perubahan iklim atau aktivitas manusia, hal itu dapat mempengaruhi keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.

C. Limbah B3

Kata B3 merupakan akronim dari bahan beracun dan berbahaya. Oleh karena itu, pengertian limbah B3 dapat diartikan sebagai suatu buangan atau limbah yang sifat dan konsentrasinya mengandung zat yang beracun dan berbahaya sehingga secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak lingkungan, mengganggu kesehatan, dan mengancam kelangsungan hidup manusia serta organisme lainya. Limbah B3 bukan hanya dapat dihasilkan dari kegiatan industri. Kegiatan rumah tangga juga menghasilkan beberapa limbah jenis ini. Beberapa contoh limbah B3 yang dihasilkan rumah tangga domestik di antaranya bekas pengharum ruangan, pemutih pakaian, deterjen pakaian, pembersih kamar mandi, pembesih kaca/jendela, pembersih lantai, pengkilat kayu, pembersih oven, pembasmi serangga, lem perekat, hair spray, dan batu baterai.

Limbah B3 mengandung zat beracun yang cukup banyak dan harus ditangani secara terpisah. Pembuangan limbah B3 secara sembarangan atau tidak sengaja menyebabkan pencemaran dan kerusakan lingkungan serta membahayakan kesehatan makhluk hidup. Contoh kegiatan industri yang menghasilkan limbah B3 antara lain industri pengolahan pelumas, industri pengolahan semen, industri pengolahan bubur kertas, dan industri farmasi.

Metode Penelitian

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif yaitu penelitian yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Penelitian kualitatif memiliki tujuan untuk menjelaskan suatu fenomena dengan sedalam-dalamnya dengan mengumpulkan data sedalam-dalamnya. Pada penelitian kualitatif, peneliti lebih menekankan pada kedalaman data yang didapatkan. Semakin dalam serta semakin detail yang diperoleh, maka semakin baik pula kualitas dari penelitian kualitatif.

B. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang peneliti lakukan adalah menggunakan pendekatan studi kepustakaan (library research) dengan mempelajari dan menelaah dokumen atau literature berkaitan permaslahan yang diteliti. Penelitian yang dilakukan dengan cara kembali menelaah sumber-sumber pustaka yang sudah ada sebagai bahan dasar untuk diteliti dengan cara mengadakan penelusuran terhadap literatur yang berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti.

C. Sumber dan Jenis Data

Data yang digunakan bersumber dari penelitian studi pustaka  (library research). Studi pustaka merupakan teknik pengumpulan data dan informasi melalui pembacaan literatur atau sumber-sumber tertulis seperti buku-buku, penelitian, referensi, literature atau karya tulis yang terkait dengan materi penelitian.

D. Prosedur Pengumpulan Data

Proses pengumpulan data dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dengan cara studi kepustakaan (library research) melalui membaca, mengutip, menyalin dan menelaah berbagai literature, teori-teori maupun berbagai peraturan yang baerkaitan dengan permasalahan yang diteliti.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

A. Hasil Penelitian

a. Jenis, sifat, dan klasifikasi limbah B3

Berdasarkan sumbernya limbah B3 dibedakan menjadi 3 jenis yaitu :

  1. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik. Limbah ini tidak berasal dari proses utama, melainkan dari kegiatan pemeliharaan alat, inhibitor korosi, pelarutan kerak, pencucian, pengemasan dan lain-lain.
  2. Limbah B3 dari sumber spesifik. Limbah ini berasal dari proses suatu industri (kegiatan utama).
  3. Limbah B3 dari sumber lain. Limbah ini berasal dari sumber yang tidak diduga, misalnya prodak kedaluwarsa, sisa kemasan, tumpahan, dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi.

Sifat dan Klasifikasi Limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) jika ia memiliki sifat-sifat tertentu, diantaranya mudah meledak, mudah teroksidasi, mudah menyala, mengandung racun, bersifat korosif menyebabkan iritasi, atau menimbulkan gejala-gejala kesehatan seperti karsinogenik, mutagenik, dan lain-lain

  1. Mudah meledak (explosive).
    Limbah mudah meledak adalah limbah yang pada suhu dan tekanan standar dapat meledak karena dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi lewat reaksi fisika atau kimia sederhana. Limbah ini sangat berbahaya baik saat penanganannya, pengangkutan, hingga pembuangannya karena bisa menyebabkan ledakan besar tanpa diduga-duga. Adapun contoh limbah B3 dengan sifat mudah meledak misalnya limbah bahan eksplosif dan limbah laboratorium seperti asam prikat.
  2. Pengoksidasi (oxidizing).
    Limbah pengoksidasi adalah limbah yang dapat melepaskan panas karena teroksidasi sehingga menimbulkan api saat bereaksi dengan bahan lainnya. Limbah ini jika tidak ditangani dengan serius dapat menyebabkan kebakaran besar pada ekosistem. Contoh limbah b3 dengan sifat pengoksidasi misalnya kaporit.
  3. Mudah menyala (flammable).
    Limbah yang memiliki sifat mudah sekali menyala adalah limbah yang dapat terbakar karena kontak dengan udara, nyala api, air, atau bahan lainnya meski dalam suhu dan tekanan standar. Contoh limbah B3 yang mudah menyala misalnya pelarut benzena, pelarut toluena atau pelarut aseton yang berasal dari industri cat, tinta, pembersihan logam, dan laboratorium kimia.
  4. Beracun (moderately toxic).
    Limbah beracun adalah limbah yang memiliki atau mengandung zat yang bersifat racun bagi manusia atau hewan, sehingga menyebabkan keracunan, sakit, atau kematian baik melalui kontak pernafasan, kulit, maupun mulut. Contoh limbah b3 ini adalah limbah pertanian seperti buangan pestisida.
  5. Berbahaya (harmful).
    Limbah berbahaya adalah limbah yang baik dalam fase padat, cair maupun gas yang dapat menyebabkan bahaya terhadap kesehatan sampai tingkat tertentu melalui kontak inhalasi ataupun oral.
  6. Korosif (corrosive).
    Limbah yang bersifat korosif adalah limbah yang memiliki ciri dapat menyebabkan iritasi pada kulit, menyebabkan pengkaratan pada baja, mempunyai pH ≥ 2 (bila bersifat asam) dan pH ≥ 12,5 (bila bersifat basa). Contoh limbah B3 dengan ciri korosif misalnya, sisa asam sulfat yang digunakan dalam industri baja, limbah asam dari baterai dan accu, serta limbah pembersih sodium hidroksida pada industri logam.
  7. Bersifat iritasi (irritant).
    Limbah yang dapat menyebabkan iritasi adalah limbah yang menimbulkan sensitasi pada kulit, peradangan, maupun menyebabkan iritasi pernapasan, pusing, dan mengantuk bila terhirup. Contoh limbah ini adalah asam formiat yang dihasilkan dari industri karet.
  8. Berbahaya bagi lingkungan.
    Limbah dengan karakteristik ini adalah limbah yang dapat menyebabkan kerusakan pada lingkungan dan ekosistem, misalnya limbah CFC atau Chlorofluorocarbon yang dihasilkan dari mesin pendingin
  9. Karsinogenik (carcinogenic), Teratogenik (teratogenic), Mutagenik (mutagenic).
    Limbah karsinogenik adalah limbah yang dapat menyebabkan timbulnya sel kanker, teratogenik adalah limbah yang mempengaruhi pembentukan embrio, sedangkan limbah mutagenik adalah limbah yang dapat menyebabkan perubahan kromosom.
b. Karakteristik Sungai Yang Terkena Limbah B3
  1. Adanya bahan pelarut dan endapan.
    Bahan pelarut dan endapan dapat membuat air berbau, memiliki derajat keasaman yang tinggi, memiliki rasa, dan berwarna.
  2. Berbau.
    Air yang murni dan sehat tidak akan menimbulkan bau. Jika sudah tercemar oleh zat polutan (benda yang menyebabkan pencemaran), air tersebut akan menimbulkan bau busukdan menyengat.
  3. Derajat keasaman tidak netral.
    Normalnya, derajat keasaman air adalah 7. Jika melebihi atau kurang dari 7, air tersebut sudah tercemar.
  4. Mikroorganisme yang berlebih.
    Limbah atau sampah yang berada di dalam air akan diuraikan oleh mikroorganisme. Untuk mengurainya, mikroorganisme membutuhkan pasokan oksigen. Semakin banyak limbah atau sampah, membuat jumlah yang dibutuhkan juga semakin banyak. Hal ini akan membuat kandungan oksigen di dalam air berkurang sehingga hewan dan tumbuhan yang hidup di dalamnya akan kekurangan oksigen. 
  5. Memiliki rasa.
    Air yang baik, murni, dan sehat adalah air yang tidak memiliki rasa. Jika memiliki rasa, baik itu asam, manis, atau pahit dapat dipastikan air tersebut tercemar.
  6. Radioaktivitas meningkat.
    Jika jumlah zat radioaktif sangat banyak, radioaktivitas air akan meningkat yang kemungkinan besar air tersebut sudah tercemar. Jika tidak segera ditangani, zat-zat yang berasal dari aktivitas manusia dan aktivitas mesin ini dapat merusak lingkungan.
  7. Suhu air berubah.
    Dalam kondisi normal, suhu air lebih rendah dibandingkan dengan suhu lingkungan. Karena itulah, air akan terasa sanat dingin ketika disentuh. Jika dalam kondisi normal suhu air terus berubah, dapat dipastikan air tersebut sudah tercemar.
  8. Berwarna.
    Air yang bersih tidak akan berwarna dan terlihat bening. Jika zat polutan telah mencemarinya, air akan mudah berubah warna.
    (Sumber: Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, 19 November, 2020)
c. Dampak Limbah B3 Bagi Ekosistem Sungai

Air Yang Tercemar Limbah B3

  1. Limbah cair yang masuk ke sungai dapat membuat pencemaran pada air yang mengandung banyak virus penyakit.
  2. Ikan dan berbagai organisme air dapat mati atau bahkan punah. Hal ini nantinya akan menyebabkan masalah pada ekosistem.
  3. Limbah yang dibuang kedalam air juga dapat menghasilkan asam organik dan gas cair organik seperti metana yang dapat membahayakan.
  4. Limbah industri yang mengandung logam, minyak, toksin organic dan zat lainnya dapat mengurangi kandungan oksigen dalam air sehingga mengganggu ekosistem dalam air.

Tanah Yang Tercemar

  1. Penurunan kualitas tanah membuat tumbuhan mati dan tercemar
  2. Produktivitas panen di lokasi yang tercemar akan berkurang atau gagal panen bahkan dapat menyebabkan matinya tumbuhan
  3. Tanah mengandung plastik dan bahan lain yang tidak dapat diuraikan
  4. Tidak adanya pertumbuhan mikroorganisme dan jamur yang dapat membantu penyerapan nutrien dari tanah oleh akar tumbuhan. Mikroorganisme tanah berperan penting dalam menguraikan segala bentuk polutan tanah dari mulai zat padat, zat cair, hingga bahan kimia.
  5. Kandungan mineral sangat sedikit sebab digantikan zat polutan yang kadarnya melebihi ambang batas.
  6. Derajat keasaman (Ph) tanah sangat tinggi sehingga tidak dapat digunakan untuk menanam tumbuhan yang bermanfaat bagi manusia, hewan dan makhluk hidup lain.
  7. Unsur hara pada tanag akan hilang sehingga pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan tidak akan terjadi.

Lingkungan Sekitar

  1. Limbah dari rumah tangga yang dibuang ke sungai dapat menyebabkan terjadinya banjir jika hujan turun dengan intensitas tinggi. Hal ini akan memberikan dampak buruk terhadap jalan, jembatan, tol dan berbagai infrastruktur lainnya.
  2. Tumpukan limbah yang tidak terkelola menyebabkan lingkungan kurang nyaman ditinggali karena bau tidak sedap.

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian studi pustaka yang saya lakukan sampah B3 dapat merusak ekosistem sungai. Dampak buruk sampah B3 menyebabkan pencemaran sungai yang mengakibatkan ekosistem sungai rusak. Pencemaran sungai ialah kondisi masuknya berbagai zat maupun benda tak terurai yang mengakibatkan air terkontaminasi dan kehilangan fungsi. Selain dapat menjadi berbagai sumber penyakit, pencemaran air turut mengakibatkan banjir.

Gambar. 1 tumpukan sampah di kali Hitam Kawasan Kemayoran Jakarta 2021

Ada empat penyebab dan yang menyebabkan dampak pencemaran sungai antara lain:

  1. Limbah Rumah Tangga. Limbah rumah tangga yang dimaksud bukan hanya limbah hasil aktivitas warga di rumah masing-masing, melainkan termasuk limbah rumah makan, kantor, pasar, pertokoan maupun rumah sakit yang dibuang sembarangan ke sungai. Limbah tersebut meliputi sisa makanan, bekas sanitasi, air bekas sabun mandi maupun cuci pakaian, plastik dan lain-lain.
  2. Limbah Industri. Saat limbah industri yang mengandung senyawa-senyawa berbahaya dari sisa kegiatan industri dibuang ke sungai dapat menyebabkan pencemaran. Akibatnya air sungai akan mengalami perubahan warna dan menimbulkan bau menyengat. Salah satu contoh limbah industri ialah cairan yang mengandung minyak, dan akan menganggu kelangsungan hidup biota sungai.
  3. Limbah Pertanian. Sisa obat pembasmi hama seperti insektisida yang dibuang ke sungai dapat menyebabkan sungai kekurangan oksigen dan pada akhirnya menganggu ekosistem sungai.
  4. Permukiman di Pinggir Sungai. Semakin banyaknya populasi dan urbanisasi manusia kerap membuat orang berbondong-bondong membangun rumah di pinggir-pinggir sungai. Akibatnya pinggiran sungai dipenuhi pemukiman kumuh, di mana warga kerap membuang sampah sembarangan. Perilaku tak baik ini dapat menyebabkan penumpukan sampah dan rumah bagi mikroorganisme jahat penyebab berbagai penyakit. Dampak lainnya bisa menyebabkan banjir.

Melihat empat penyebab pencemaran sungai di atas, tentu ia dapat memberikan dampak buruk bagi lingkungan, di antaranya:

  1. Terjadinya banjir akibat penumpukan sampah di dasar sungai.
  2. Timbulnya berbagai penyakit dari mikroba pathogen yang berkembang di air sungai tercemar.
  3. Berkurangnya ketersediaan air bersih.
  4. Air sungai kekurangan oksigen dan membahayakan kehidupan ikan-ikan di dalamnya.
  5. Reaksi kimia di dalam air sungai menjadi lebih cepat.
  6. Produktivitas tanaman menjadi terganggu.

Penyebab dan dampak pencemaran sungai tersebut dapat dijadikan sebagai pejalaran untuk tidak mengembangkan perilaku yang merusak sungai. Menjaga sungai sama saja menjaga kelangsungan hidup di masa depan.

Simpulan dan Saran

A. Simpulan

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan dihampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari industri. Masalah limbah industri merupakan salah satu yang perlu diperhatikan oleh para pelaku industri dan pemerintah, karena dapat menimbulkan berbagai bahaya dan kerusakan lingkungan yang berdampak pada makhluk hidup jika tidak dikelola dengan baik. 

Limbah digolongkan sebagai limbah B3 bila mengandung bahan berbahaya atau beracun yang sifat dan konsentrasinya, baik langsung maupun tidak langsung, dapat merusak atau mencemarkan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan manusia.Yang termasuk limbah B3 antara lain adalah bahan baku yang berbahaya dan beracun yang tidak digunakan lagi karena rusak, sisa kemasan, tumpahan, sisa proses, dan oli bekas kapal yang memerlukan penanganan dan pengolahan khusus. Bahan-bahan ini termasuk limbah B3 bila memiliki salah satu atau lebih karakteristik berikut: mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif, dan lain-lain, yang bila diuji dengan toksikologi dapat diketahui termasuk limbah B3.

B. Saran

Dampak sampah B3 limbah terhadap lingkungan  mengakibatkan rusaknya ekosistem air, tanah dan udara. Pengelolaan   limbah sambah B3 penting    untuk kelangsungan   hidup   yang   baik, karena dengan   menjaga   lingkungan,   kita   dapat memelihara ekosistem kehidupan yang lebih baik,  dan  yang  tak  kalah pentingnya  untuk menjaga   kesehatan   secara   keseluruhan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembaharuan konsep    pengelolaan    dan pembaharuan bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam menyelesaikan pengelolaan lingkungan dengan baik. Mengingat    banyaknya    tantangan yang terkait dengan pengelolaan limbah B3, mulai dari industrialisasi hingga keberlanjutan   sistem   pengelolaan   limbah yang terintegrasi, menyeluruh dan berkelanjutan diperlukan kebijakan pengelolaan   limbah B3 baik limbah yg berasal dari industri maupun limbah dari rumah tangga. Mengatur pengelolaan limbah dan  menjaga sungai sama saja menjaga kelangsungan hidup di masa depan.

Daftar Pustaka

Dian Andryanto,  S. (2021, 20 Mei) Empat Sebab Pencemaran Sungai, Enam  Dampak Buruk Bagi Lingkungan. Di akses pada 23 Januari 2024,
https://tekno.tempo.co/read/1464117/4-sebab-pencemaran-sungai-6-dampak-buruk-bagi-lingkungan

Dinas Lingkungan Hidup, Buleleng (2019, 30 September) Pengertian Limbah B3 (Bahan Berbahaya Beracun). Di akses pada 20 Januari 2024. https://dlh.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/pengertian-limbah-b3-bahan-berbahaya-beracun-41

Ki, Max, (2023 18 Desember) Pengertian Ekosistem Ciri dan Komponen. Di akses pada 17 Januari 2024.  https://umsu.ac.id/berita/pengertian-ekosistem-ciri-dan-komponen/

Nur Rafi, Alfiy. (2023, 18 September) Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah. Di akes pada 17 Januari 2024.
https://budaya.jogjaprov.go.id/berita/detail/1632-limbah-industri-jenis-bahaya-dan-pengelolaan-limbah

Universal Eco, Dampak Limbah B3 Bagi Lingkungan. Diakses pada 18 Januari 2024.  https://www.universaleco.id/blog/detail/dampak-limbah-b3-bagi-lingkungan

Baca Juga Karya Tulis Lainnya

KONTAK

0851 7418 7548

info@al-kamil.sch.id

SOCIAL MEDIA

Organized by Humas Yayasan Cahaya Insan Mulya